CITRA SASMITA

PARA IMIGRAN DIGITAL

Citra sasmita

 

Jika dulu manusia akan melakukan sebuah migrasi massal karena faktor bencana baik oleh alam atau peperangan, maka jika pada hakekatnya kita senantiasa melakukan migrasi, kini bukan tubuh kita yang berpindah. Berpindahnya kesadaran manusia dari realita menuju hyperealita sesungguhnya jauh lebih mengerikan dari sekedar migrasi teritorial. Kita akan kesulitan untuk membedakan antara mana yang nyata dan yang ilusi. Gejala awalnya bisa diamati ketika seseorang berjarak dengan alam dan kehilangan kemampuan produksi.

 

Dalam arus industri, bukan hanya produknya yang dipabrikasi, tapi juga para pekerjanya. Mereka bisa bekerja dalam sistem dan menjadi konsumen dari produk sistem tersebut. Sistem tersebut menyebar dengan cepat dan  ganas  seperti virus, karena didukung juga dengan industri lain terutama bisnis televisi, yang konon hadir menjadi media hiburan untuk mengurangi stress para buruh pabrik. Namun tanpa disadari begitulah cara kapitalisme menyusup dan melakukan cuci otak melalui iklan-iklan komersial.

 

Ketika memasuki dunia digital, manusia kembali digiring untuk bermigrasi secara besar-besaran. Namun migrasi itu tidak bersifat dinamis akan tetapi statis. Dan oleh Mac Prensky, para imigran tersebut dibagi menjadi dua kategori yaitu generasi digital immigrant dan digital native. Digital native merupakan kelompok orang yang telah mengenal internet sejak mereka mulai belajar menulis. Bisa dibayangkan generasi ini notabene berusia 20 tahunan ini dan telah memahami bagaimana berurusan dengan teknologi dan internet. Sedangkan, golongan kedua adalah generasi digital immigrant, generasi ini, biasanya baru mengenal internet setelah mereka dewasa. Generasi digital native biasanya bisa belajar lebih cepat dan fasih menggunakan teknologi dibandingkan dengan golongan digital immigrant, bisa mengetahui banyak hal karena selalu bersinggungan dengan search engine untuk segala informasi yang ingin mereka dapatnya, namun biasanya informasi tersebut hanya parsial. Mereka bisa tahu filsatat tanpa membaca utuh buku filsafat, seolah tidak ada waktu untuk memahami isi buku dan hanya mengambil intisarinya saja. Yang menjadi efek buruk adalah adanya gangguan konsentrasi dan pola pikir, karena telah terbiasa mengkonsumsi informasi yang parsial dan tidak terpusat.

 

Begitu pula dengan kelompok kedua ini. facebook, twitter, youtube, merupakan ruang sosial yang membuat mereka sangat kecanduan. Bahkan tanpa mereka sadari, mereka telah memasukkan identitas mereka disana. Kolom “Apa yang anda pikirkan?” ketika pertama kali membuka halaman facebook misalnya, barangkali mempunyai daya persuasi yang tinggi sehingga seorang pemilik akun mempunyai gejala narsis berlebihan dan kebebasan untuk mengungkapkan pikiran, masalah, atau aib orang lain. Biasanya mereka tidak mengontrol dan tidak tanggung-tanggung untuk menyerang orang lain dalam ruang maya karena berkonfrontasi secara teks tidak akan menimbulkan kerugian apapun atau mengumpulkan sebanyak-banyaknya modal simbolik dengan mengunggah foto-foto pencapaian mereka, seolah ruang digital lebih membuat mereka eksis daripada berinteraksi sosial secara langsung. Jika dalam dunia nyata mereka bisa membatasi dan mengontrol diri dalam relasi sosial, maka berbeda halnya dengan identitas yang mereka ciptakan dalam ruang nirbatas tersebut. Mereka bisa sangat jujur mengunggah teks, idiologi, emosi tanpa mempertimbangkan konteks sosial media itu ada dan larut dengan identitas semu mereka.

 

Hanya segelintir yang telah bisa mengurangi kecendrungan buruk media sosial. Menjadi manusia temperamental dan megalomaniak merupakan dampak yang dapat dengan jelas kita amati. Penyalahgunaan pemanfaatan media sosial ini terlihat dari data penyimpangan perilaku melalui media sosial seperti facebook dan twittermencakup kelompok usia 13 - 15 tahun memiliki porsi 12,3% dari total pengguna media sosial di Indonesia, atau 5.078.440 pengguna dari jumlah 41.777.240 orang. Untuk kelompok usia 16-17 tahun berjumlah 6.177.060 orang atau 15 % dan untuk kelompok usia 18-24 tahun berjumlah 17.417.600 orang atau 42,3%.Bila digabungkan maka jumlah kelompok usia 13-24 tahun memiliki porsi terbesar yaitu 79,6% atau 28.673.100 orang (Waspadamedan, 2016). Dalam Kajian Ringan Seputar Isu Psikologis (Katarsis) dengan tajuk “Sosial Media Stalking: Can We Find Out People’s Personalities Just by Looking at Their Media Posting? Dr. Yunita Nisa, S.Psi., M.Psi. (psikolog dan peneliti media sosial) memaparkan hasil penelitiannya bahwa dengan menggunakan sarana media daring terhadap diri seseorang tidak berbeda jauh ketika orang tersebut mengisi self report. “Misalnya orang yang suka mengekspresikan emosi dan ekspresi yang berlebihan atau dianggap sebagai neuroticism, cenderung sering curhat di sosmed,” ungkapnya. Tentunya akan lebih parah lagi jika mereka tidak bisa hidup lagi dalam realitas sosial/anti sosial memindahkan spiritualitas mereka dalam sistem tak kasat mata.

 

Bagaimanapun, teknologi terutama internet merupakan alat yang semestinya mempermudah dinamika kehidupan manusia, bukan malah menjadikan gerak mereka statis. Namun ketika pergerakan zaman dan kebudayaan telah menuntut setiap orang untuk mengkonsumsi teknologi, berusaha mengurangi ketergantungan dengan sesekali mematikan handpone dan menutup media sosial serta kembali intens berinteraksi serta menyadari realita sosial merupakan langkah kecil untuk menghindari efek-efek psikologis tersebut.

© 2017 Citra Sasmita