CITRA SASMITA

MELAMPAUI BATAS-BATAS BALINISASI

Citra sasmita

 

Sebelas perupa Bali telah menghadirkan karyanya di negeri kangguru pada tanggal 6 Desember 2016 lalu. Tidak hanya menampilkan kematangan teknik dan representasi karya-karya kontemporer yang memberikan perspektif baru mengenai seni rupa kontemporer Bali, namun juga membawa gagasan-gagasan yang mempertanyakan kembali mengenai identitas seni rupa Bali yang telah dikonstruksi dalam politik etis Belanda pada tahun 1920an yang disebut Baliseering. Politik etis Belanda ini merupakan upaya kolonialiasi terhadap masyarakat Bali, dengan mengambil peran-peran kekuasaan untuk mengembangkan dan mengeksploitasi kebudayaan Bali serta mengisolasinya dari pengaruh luar etnis Bali. Dengan mengusung tajuk Crossing : Beyond Baliseering, sebanyak 22 karya telah dipamerkan dan menjadi titik acuan bagi seni rupa Bali untuk melompati batas-batas Balinisasi. Berlokasi di galeri Fortyfivedownstairs, Melbourne, pameran ini dipersembahkan oleh Project 11 dan didukung oleh Multicultural Arts Victoria, Pemerintah Negara bagian Victoria, Australia, Konsulat General Republik Indonesia, Melbourne Australia, dan maskapai Garuda Indonesia.

 

Pameran ini telah menjadi momentum penting di penghujung tahun 2016. Wacana dan karya yang dihadirkan tidak hanya menjadi formulasi antara kultur Bali dan tawaran visual yang diluar konvensional—tidak menampilkan idiom tradisi sebagai fokus visual yang kerap kali sulit diinterpretasikan oleh penikmat seni yang awam terhadap budaya Bali. Namun juga mengadirkan pemetaan mengenai sejarah dan akar seni rupa Bali yang masih memberikan dampak dan ekses-ekses baik secara sosio kultural dan kode visual para seniman Bali.

 

Selama ini, Bali dianggap tidak mempunyai seni rupa kontemporer. Minimnya jumlah artspace dan galeri yang representatif untuk memamerkan karya-karya kontemporer menjadi persoalan kecil yang kerap kali diperbincangkan. Padahal ada banyak faktor yang menyebabkan seni rupa Bali dipandang berada di luar konstelasi seni rupa kontemporer Indonesia. Seperti citra Bali yang sangat turistik sehingga berpengaruh pada praktik seni rupa yang bertumpu pada arus pasar. Karya-karya yang hadir dalam ruang komersil kerap mengadirkan keindahan alam dan imaji kehidupan masyarakat Bali yang disambut dengan laris manis. Seperti tidak bisa beranjak dari euphoria masa lalu, praktik seni rupa Bali masih dinaungi pemujaan terhadap keindahan yang melenakan dan tanpa esensi. Tidak hanya kemolekan alam yang menjadi sumber inspirasi dan daya tarik orang asing datang ke Bali, eksotika perempuan Bali juga dikomoditikan melalui kartu pos, foto ataupun video dokumenter dimana menampilkan tubuh perempuan Bali yang setengah terbuka. Sehingga tidak bisa dipungkiri jika Bali benar-benar menjadi representasi surga bagi para pendatang.

 

Bali diisolasi layaknya akuarium dengan memperkuat feodalisme dan otonomi raja-raja kecil di dalamnya untuk menekan gerakan nasionalisme dan pengaruh Islam yang sangat dinamis di Indonesia. Struktur sosial Bali yang diwarnai dengan sistem kasta pun semakin membuat masyarakat Bali lebih tertutup. Dengan mengatasnamakan sakralitas masyarakat kelas bawah (jaba) menjadi kelas pekerja melalui pelaksanaan ritual dan segala bentuk perayaan dan kesenian demi kepuasan orang-orang kolonial. Tak dinyana, Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater (1906) menjangkarkan analisanya mengenai habitus orang Bali yang selayaknya pemain teater, mementaskan simbol-simbol sakral dan upacara sebagai nafas utama kehidupannya. Masyarakat Bali kelas bawah kerap melaksanakan peran sosial dan ritual tanpa memahami esensi dan filsafatnya—akses filsafat dan pengetahuan dikuasai oleh kaum atas dan para brahmana.

Maka membaca potensi seni rupa kontemporer Bali, merupakan upaya untuk melepaskan diri dari ekses-ekses Balinisasi yang membuat praktek seni rupa di Bali dicap stagnan dan tidak bisa berkembang. Para pelukis Bali dianggap hanya bisa melukis dengan kemampuan teknis yang mumpuni namun tidak memberikan dinamika kebudayaan yang signifikan. Bali sesungguhnya merupakan sejarah cikal bakal seni rupa di Indonesia, terbukti dengan adanya kunjungan-kunjungan pelukis Jawa yang ingin merasakan sendiri atmosfer kesenian di Bali  seperti  Hendra Gunawan, Affandi, Nashar dkk. Namun sungguh harus dimaklumi—akibat kolonialisasi ini, para pelukis Bali sulit mengungkapkan gagasan dan mepresentasikan realita sosial dalam karya-karya lukis mereka. Meski pada era revolusi, pelukis Nyoman Ngendon hadir dengan tema-tema perjuangan sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda. Namun ia lekas gugur dalam peperangan sebelum bisa menghasilkan lebih banyak pengaruh kebudayaan melalui lukisan-lukisannya.

 

Barangkali mesti menunggu seabad lebih untuk memantik gerakan-gerakan senirupa di Bali, meski hanya sekadar letupan yang membara lalu kian meredup karena benturan wacana dan kondisi pasar namun usaha para perupa Bali untuk merombak kembali identitas kerupaan mereka sungguh patut diapresiasi.  Dalam pameran Crossing: Beyond Baliseering, perupa Wayan Upadana, Budi Agung Kuswara dan Kemal Ezedine menghadirkan keotentikan Bali melalui idiom barong, rangda, dan perempuan Bali tempo dulu. Perupa Wayan Upadana mecoba mempertanyakan posisi orang Bali yang terjebak dalam transisi antara tradisi dan moderen. Seperti dalam karya trimatranya yang berjudul “Si Gendut Pencari Tuhan”, sebuah patung bertubuh gemuk, berkepala barong duduk dalam posisi meditatif, cukup menyiratkan pertanyaan-pertanyaan kontemplatifnya sebagai orang Bali mengenai kekayaan alam yang melimpah, dipersembahkan dengan penuh gegap gempita dalam setiap upacara, perayaan, dan ritual dengan segala kompleksitas prosesinya. Namun lagi-lagi semua itu dilaksanakan oleh orang Bali tanpa memahami apa esensinya, apa tujuan spiritualnya, bahkan cenderung bisa menghabiskan biaya yang cukup besar. Budi Agung Kuswara dan Kemal Ezedine menghadirkan sosok perempuan Bali tempo dulu sebagai representasi identitas Bali yang dieksploitasi Belanda melalui politik etisnya. Sama-sama menghadirkan posisi orang Bali yang berada dibawah invansi kolonial, tidak hanya secara teritori, namun menginfeksi lebih jauh lagi hingga ke mentalitas masyarakatnya, mentalitas inlander.

 

Selain itu, I Made Aswino Aji dan Slinat hadir dengan instalasi yang cukup frontal menggambarkan asimilasi kebudayaan barat yang mengakibatkan hilangnya identitas orang Bali. Suatu peralihan dari yang sakral menuju profan, dari yang berpusat kepada harmoni alam kini beralih kepada yang industrial. Karya-karya mereka sangat bernas menghadirkan realita kehidupan yang dihadapi masyarakat bali sekarang.

 

Masih nalam nafas street art M. Yoesoef Olla menghadirkan karya seri “Let’s Play Series #1-3” : 3 panel lukisan diatas kulit yang merespon isu-isu global dan politik melalui ikon pop culture. Kondisi sosial yang carut marut ia ungkapkan melalui figur-figur simbolik yang masing-masing membentuk relasi sebab akibat namun menjadi utuh dalam setiap panelnya. Kemudian Art of Whatever dalam instalasi sofa berukuran 3 meter, “Everyday is Sunday” seperti sebuah parodi bagi masyarakat yang terjebak arus industri. Instalasi sofa tersebut mengajak pemirsa untuk duduk dan santai sejenak, melupakan jam-jam kesibukan mereka.

 

Berbeda halnya dengan Citra Sasmita, Natisa Jones, I Made Suarimbawa ‘Dalbo’ dan Valasara yang menampilkan narasi tubuh, persoalan identitas kebudayaan masuk ke dalam wilayah yang lebih privat--sulit terdeteksi namun begitu krusial mempengaruhi sistem sosial masyarakat. Saya sendiri menghadirkan lukisan tubuh perempuan yang ditumbuhi kaktus yang berjudul “Ab Initio, Ab Aeterno (Yang Bermula, Yang Tanpa Akhir)”. Sosok perempuan dalam lukisannya memotong satu persatu kaktus tersebut. Kaktus baginya merupakan simbolisasi dari phallus atau maskulinitas yang telah secara alamiah menyertai perkembangan kehidupan manusia. Baginya permasalahan patriarkhi merupakan permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya, termasuk dalam hal pendidikan bahasa daerah yang salah dipahami sebagai bahasa ibu serta bahasa simbolik yang dipakai dalam lingkungan sosial yang kerap kali mensubordinasi perempuan. Hal yang saling berkaitan juga tercermin dalam karya Natisa Jones yang mempertanyakan tentang identitas personal seseorang dengan relasi diluar dirinya serta bagaimana emosi dan psikologi antar relasi tersebut saling mempengaruhi. Hal tersebut tersirat dalam garis-garis ekspresionis yang membentuk figur yang tidak utuh. Ketidakutuhan figur tersebut justru menjadi kekuatan dan gagasannya mengenai si sosok liyan. Kemudian I Made Suarimbawa ‘Dalbo’, “Narasi Menunggu Kelahiran” yang berkaitan dengan peran penting perempuan untuk melanjutkan keturunan dan terakhir adalah Valasara, seorang perupa yang telah menerabas batas dua dimensi dalam karya-karyanya dan menjadikannya tiga dimensi melalui tehnik emboss dan deboss. Sebuah upaya estetik yang memberikan perspektif baru mengenai penggunaan medium dalam seni rupa.

 

Pameran Crossing: Beyond Baliseering akan berlangsung dari 6 Desember hingga 17 Desember 2016. Meski periode pameran ini cukup singkat, namun tanggapan yang luar biasa telah diterima para seniman. Para penikmat seni dan audience dari Melbourne yang selama ini terbiasa dengan seni kontemporer Indonesia yang hanya bertumpu pada seni kontemporer Jogja, Bandung dan Jakarta, ternyata cukup terkejut dan terpukau dengan potensi seniman Bali. “Kami bangga pameran seni rupa kontemporer Indonesia dipresentasikan di Melbourne. Sebuah kota multikultural, kota yang tidak asing lagi dengan seni kontemporer dari Jakarta, Yogyakarta dan Bandung. Memamerkan karya dari seniman yang berbasis di Bali adalah langkah berikutnya. Ini hanya awal karena kami bertujuan untuk terus mendukung seniman pendatang baru yang berusaha untuk mendobrak batas-batas seni dan persepsi yang telah ada, dan mempertanyakan kembali mengenai norma-norma sosial dan budaya,” ungkap Mara Sison, kurator pameran Crossing: Beyond Baliseering

© 2017 Citra Sasmita