CITRA SASMITA

METANARASI PEREMPUAN DALAM SENI RUPA

Tak dapat dipungkiri bahwa mitos perempuan sebagai subjek seni memang kalah besar dibandingkan perempuan sebagai objek seni. Sebagai dasar dari pernyataan tersebut, opini dari almarhum Basoeki Abdullah harus dimunculkan lagi yaitu “perempuan itu lebih cocok dilukis bukan sebagai pelukis”. Di satu sisi tersurat suatu pujian akan estetika tubuh perempuan sebagai objek lukisan namun disisi lain hal tersebut juga menggambarkan sindiran bahwa perempuan tidak perlu melompati pagar-pagar estetika tubuh tersebut kemudian mengungkapkan gagasan mereka dalam visual atau wujud kreasi manapun yang bisa dicapai. Read more

REMPAH, IBU PERADABAN INDONESIA

Terhitung tahun 1968 ketika diperkenalkannya produk makanan instan mulai dari produk olahan mie yang hingga kini terus berinovasi dengan produk racikan bumbu instant. Sebelum angka tahun tersebut, bisa dibayangkan kegiatan memasak dan menciptakan bumbu dalam rumah tangga masih menggunakan racikan bahan alami dengan spesifikasi jenis tanaman dan rempah yang cukup banyak dan beragam jumlahnya. Tentu untuk membuat racikan sebuah bumbu dibutuhkan penguasaan akan jenis bahan dan komposisi yang pas dimana rasa masakan yang berkarakter adalah penentu dari keberhasilan racikan tersebut. Read more

PARA IMIGRAN DIGITAL

Jika dulu manusia akan melakukan sebuah migrasi massal karena faktor bencana baik oleh alam atau peperangan, maka jika pada hakekatnya kita senantiasa melakukan migrasi, kini bukan tubuh kita yang berpindah. Berpindahnya kesadaran manusia dari realita menuju hyperealita sesungguhnya jauh lebih mengerikan dari sekedar migrasi teritorial. Kita akan kesulitan untuk membedakan antara mana yang nyata dan yang ilusi. Gejala awalnya bisa diamati ketika seseorang berjarak dengan alam dan kehilangan kemampuan produksi. Dalam arus industri, bukan hanya produknya yang dipabrikasi, tapi juga para pekerjanya. Mereka bisa bekerja dalam sistem dan menjadi konsumen dari produk sistem tersebut. Read more

MELALUI BATAS-BATAS BALINISASI

Sebelas perupa Bali telah menghadirkan karyanya di negeri kangguru pada tanggal 6 Desember 2016 lalu. Tidak hanya menampilkan kematangan teknik dan representasi karya-karya kontemporer yang memberikan perspektif baru mengenai seni rupa kontemporer Bali, namun juga membawa gagasan-gagasan yang mempertanyakan kembali mengenai identitas seni rupa Bali yang telah dikonstruksi dalam politik etis Belanda pada tahun 1920an yang disebut Baliseering. Politik etis Belanda ini merupakan upaya kolonialiasi terhadap masyarakat Bali, dengan mengambil peran-peran kekuasaan untuk mengembangkan dan mengeksploitasi kebudayaan Bali serta mengisolasinya dari pengaruh luar etnis Bali. Read more

MERAYAKAN MURNI, MERAYAKAN PEREMPUAN DALAM KESENIAN

Jejak perempuan dalam dunia senirupa di Bali bisa diibaratkan sebagai oase di tengah gurun pasir. Jika bukan karena minimnya arsip yang mencatat perjalanan kesenimanannya, kurangnya partisipasi perempuan dalam event senirupa pun semakin menjauhkannya dalam jangkauan radar/ perhatian publik seni. Entah karena perempuan perupa Bali luput dari perhatian atau dalam segi karya dan intelektualitas masih dinilai tidak representatif tampil dalam ruang pameran. Read more

MENGENALKAN OTORITAS TUBUH SEJAK DINI

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoalan domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Read more

8 MARET, GERAKAN PEREMPUAN MENUJU KESETARAAN

“Perempuan adalah kekuatan utama dalam sebuah perubahan” begitulah yang diungkapkan oleh Sri Mulyani Indrawati, Chief Operating Officer and Managing Director, Bank Dunia. Karena baginya, negara yang menjamin dan menginvestasikan pendidikan bagi anak-anak perempuan dan menghilangkan hambatan hukum bagi perempuan untuk memaksimalkan potensinya sekarang telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Read more

© 2017 Citra Sasmita