CITRA SASMITA

Citra sasmita lahir di Tabanan tahun 1990, mengenal dunia seni sejak kecil melalui buku dan komik bacaannya. Hobi membaca kemudian mengarahkan minatnya untuk mulai menulis puisi, cerita pendek, dan juga melukis figur-figur dalam imajinasinya. Perjalanan karir seninya bermula saat dipercaya menjadi ilustrator cerita pendek di media massa lokal bali post meskipun tidak pernah menempuh pendidikan seni secara formal.

 

Memiliki latar belakang pendidikan di bidang humaniora dan sains, citra pernah kuliah di dua jurusan berbeda, sastra inggris dan fisika. Dua bidang ilmu itulah yang banyak berpengaruh pada proses kekaryaannya. Ilmu sastra memberinya kemampuan untuk melihat fenomena sosial dan membayangkan posisi idealnya, sedangkan ilmu sains membentuk cara pikirnya dalam melihat berbagai fenomena itu secara rasional. Semua itu dipadukan dalam karya-karyanya yang berupa lukisan dan instalasi berbahan logam.

 

KONSEP BERKARYA

Tubuh perempuan tidak hadir dengan sendirinya, melainkan kerap dihubungkan dengan nilai-nilai yang berasal dari luar dirinya. Seperti nilai sosial, ekonomi, dan politik yang semuanya dibentuk oleh konvensi masyarakat dengan berbagai kepentingannya. Seringkali, kepentingan-kepentingan tersebut menjadi bias ketika terhubung dengan budaya patriarkis yang justru menekan posisi perempuan di ranah tersebut. Sehingga perempuan tidak bisa berdiri secara mandiri dengan nilai-nilai yang dikehendaki ada dalam dirinya, tetapi justru terpaksa menerima nilai-nilai yang dilekatkan pada tubuhnya dengan berbagai konsekuensi yang ditanggungnya. Lingkaran sosial semestinya menempatkan diri perempuan secara adil dan sesuai dengan kodrat penciptaannya, yaitu pada fungsi maternal dimana perempuan dapat menentukan berbagai aspek yang menopang identifikasi atas dirinya.

 

Namun sayangnya, yang terjadi justru identifikasi atas perempuan tersebut dipersempit hanya pada fungsi reproduksi semata, sehingga di dalam lingkup sosial membuat posisinya menjadi minor di hadapan kultur yang dibentuk secara patriarkis. Padahal, tubuh perempuan memiliki potensi untuk membangun definisi yang paling tepat atas dirinya sendiri, tanpa harus dipaksakan melekat pada pada nilai-nilai yang dibentuk masyarakat. Kebebasan perempuan untuk memberi tafsir atas dirinya sendiri tidaklah membuatnya lepas secara total dari lingkup sosial keberadaannya, melainkan justru membuatnya mampu menempatkan diri sebagai bagian darinya.

 

Dengan nilai yang dipilih, atau bahkan dibentuknya sendiri, perempuan bisa semakin memahami apa saja yang ada di dalam tubuhnya dan bagaimana memfungsikannya secara tepat. Realitas sosial hari ini, telah menempatkan diri perempuan pada posisi sekunder, sehingga ketika mereka berupaya untuk membebaskan diri dari nilai-nilai yang membelenggunya tersebut, kerap dianggap sebagai pemberontakan dan menimbulkan gesekan sosial.

 

Nilai dan aturan sosial yang telah berlangsung sekian lama, membuat perempuan kesulitan untuk berhadapan dengannya dan menawarkan nilai-nilai baru atas dirinya. Situasi ini termanifestasi melalui sejumlah luka sosial yang ditanggung oleh tubuh perempuan, seperti stigma yang melekat atas tubuh, beban moril atas setiap perilakunya, termasuk derita fisik yang juga harus dialaminya dari lingkungan di sekitarnya. Mengembalikan tubuh perempuan pada fungsi kodratinya menjadi jalan untuk membebaskan mereka dari belenggu nilai yang menjerat dan menghimpitnya dalam putaran arus masyarakat. Dalam karya-karya saya, kita dapat melihat bagaimana penjelajahan terhadap tubuh perempuan itu dilakukan melalui luka-luka yang dialami oleh mereka. Penderitaan perempuan dihadirkan sebagai sesuatu yang indah, sekaligus menjadi jalan untuk masuk dan menemui bagaimana benturan antara tubuh dan nilai sosial itu terjadi pada diri perempuan secara utuh.

CV

 

EDUCATION

Physic Department Ganesha University of Education

 

SOLO EXHIBITION

2017    Beauty Anatomy, Laramona-Ubud, Bali

2015    Maternal Skin, Ghostbird + Swoon, Bali

 

GROUP EXHIBITION

2017    Kecil Itu Indah, Edwin’s Gallery, Jakarta

2017    Yogya Annual Art #2, Bergerak, Sangkring Art Space Yogyakarta

2017    Lady Fast Vol. 2, Spasial, Bandung

2017    Mabesikan Project, Art for Social Change Presentation, Salihara, Jakarta

2016    Crossing: Beyond Baliseering, 45downstairs, Melbourne

2016    Merayakan Murni, Sudakara Artspace Sanur, Bali

2016    Mabesikan Festival-Art For Social Change, Desa Budaya Kertalangu, Bali

2016    Bhatari Art Project, Art For Social Change, Kedisan village, Kintamani-Bali

2016    WOI (Wall of Indonesia), Bloo Artspace, Bali

2016    Personal Line, Sudakara Art Space Sanur, Bali

2015    Violent Bali, Tony Raka Gallery, Bali

2015    Makassar Biennale Trajectory, Makassar

2015    PSOFA (Portable Sculpture Object Functional Art), Sudakara Art Space Sanur, Bali

 

AWARD

2016    Finalis Kompetisi Karya Trimatra Salihara, Jakarta

2015    Semifinalist BaCAA#4 (Bandung Contemporary Art Award #4)

 

RESIDENCY

2017    Festival Bangsal Menggawe (Kolaborasi Seniman dan Masyarakat), Pemenang, Lombok Utara supported by Komunitas Pasir Putih dan Koalisi Seni Indonesia

 

PERFORMANCE ART

2016    Performance Art “Pursuing Case of Identity at Censor, Ari Banyuaji’s solo exhibition, Red Base, Jogjakarta

© 2017 Citra Sasmita